“Kenapa kamu mau masuk fakultas ekonomi?” Tanya seorang sensei di sekolah bahasa Jepangku dulu waktu konsultasi masalah kelanjutan kuliah. Akupun waktu itu hanya menjawab sekenanya saja.
“Lalu bagaimana menurutmu tentang masa depan ekonomi Jepang?” Tanya senseiku lagi.
“Saya pikir ekonomi Jepang akan terus maju.” Itupun aku jawab dengan sekenanya. Barang-barang made in Japan yang menyebar ke seluruh Negara di dunia, Toyota yang jadi produser mobil nomor 1 dunia, Sony, Toshiba dan beberapa perusahaan kelas dunia asal Jepang. Kalau melihat semua itu sekilas siapapun akan berkata kalau ekonomi Jepang akan terus maju.
Tapi senseiku tapi menjawab jawabanku tadi dengan muka sinis tanpa bertanya lebih jauh lagi.
_____________________
少子高齢化(shoushikoureika), dalam bahasa inggris disebut juga dengan Population aging, adalah suatu fenomena dimana angka kelahiran suatu negara lebih kecil daripada angka kematiannya sehingga dari tahun ketahun jumlah bayi menurun dan jumlah manula meningkat terus. Fenomena ini sering terjadi di Negara-negara maju termasuk Jepang dan bisa menjadi suatu masalah yang sangat serius kalau tidak bisa ditangani cepat.
Angka kematian menurun merupakan suatu hal yang menyenangkan. Itu tandanya pengobatan di Jepang sudah maju. Tapi menurunnya angka kematian ini dibarengi dengan menurunnya juga angka kelahiran. Menurut perkiraan badan sensus penduduk Jepang yang diumumkan pada tahun 2006 lalu, Jumlah penduduk Jepang yang waktu itu berjumlah 127,77 juta jiwa, pada tahun 2055 akan berkurang sekitar 10 persen. Selain itu Population aging akan menjadikan Jepang sebagai Negara dengan populasi piramida terbalik.
Memang apa masalahnya???
Dalam bidang ekonomi ini merupakan suatu masalah yang serius. Bagaimana keadaan Jepang 50 tahun kedepan? Jika angka kelahiran Jepang tidak meningkat dan perkiraan yang diumumkan oleh badan sensus penduduk Jepang itu benar-benar terjadi, maka ekonomi Jepang akan berada dalam keadaan krisis. Jumlah penduduk usia produktif 50 tahun mendatang akan menurun sedangkan jumlah penduduk usia manula terus menaik.
Apabila jumlah manula naik, Negara harus mengucurkan dana lebih banyak untuk membiayai bidang kesejahteraan masyarakat, pengobatan dan kesehatan, uang pensiun dan segala yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Artinya pengeluaran Negara juga bertambah.
Di sisi lain, Jumlah penduduk usia produktif menurun. Dengan demikian jumlah pekerja menurun, penerimaan pajak Negara juga menurun. Lalu GDP juga menurun. Dengan kata lain pemasukan Negara menurun.
Pengeluaran terus bertambah di kala pemasukan terus menurun. Apa yang akan terjadi disaat seperti itu? Hmmmm…… ekonomi Negara akan kolaps. Mampukah Jepang keluar dari keadaan seperti ini? Ya….. kita tunggu saja tanggal mainnya.
________________________
Sekarang aku mengerti kenapa senseiku dulu bermuka sinis.
Pusiiiing banget deh.
Minggu lalu dosenku menyuruhku membuat laporan tentang hubungan antara Keinezian sama Tokugawa Muneharu. Soalnya dia menilai kalo Tokugawa Muneharu yang hidup jauuuuh sebelum si Keinez muncul ke muka bumi ini menjalankan Economic Policy-nya sama seperti yang dirumuskan oleh Keinez. Singkatnya Tokugawa Muneharu adalah keinezian sebelum Keinezian. Dosenku tuh bilang, “Kalian ngambil dari bahan kuliah yang saya berikan saja cukup kok,”
Hah…..!!!!!! cukup?????? Waktu kuliah dia ngomong apa aja aku nggak ngerti. Jangankan aku, orang Jepang yang sejak melek ketemu dengan bahasa Jepang aja bilang kuliahnya gak bisa dimengerti. Apalagi aku tuh yang baru belajar baca hiragana 2 tahun yang lalu??? Waduh…. bahaya nih….. yabai kore….
Akhirnya semingguan aku cari di internet tentang Keinezian dan juga si Tokugawa Muneharu. Alhamdulillah di wikipedia artikel tentang Tokugawa Muneharu dan Keinezian ada dalam artikel yang terpisah. Sayangnya kedua tulisan itu gak ada dalam wikipedia bahasa Indonesia. Keinezian ada dalam Inggris dan Jepang, lengkap. Kalo Tokugawa Muneharu yang lengkap cuman ada di bahasa Jepang. Akhirnya kuprint dokumen yang butuhkan, dan kumulai dari Tokugawa Muneharu.
Pas baca artikelnya tuh…. Wah….. apaan nih??? Kanji-kanjinya kok bulet-bulet kayak benang semrawut, dan lagi gak pernah ketemu lagi sama tuh kanji. Akhirnya 3 jam kucoba mengerti arti artikel tersebut dan baru kubiskan 1 halaman setengah dari 3 halaman yang ada. Fuhhhh…… capeknya……
Singkat cerita semua artikel sudah kubaca dan menghabiskan waktu berhari-hari. Habis itu bukannya masalah sudah selesai, tapi malah tambah bingung. “Emang apa yang sama antara Muneharu dan Keinezian?????” pikirku. Wah…. pusiiiiing. Kucari-cari artikel tambahan tapi tetep aja I have no clue. Apa yang ditulis nih????
Tokugawa Muneharu dan Keinezian…. hmmmm….. akhir cerita dari dua orang itu emang sama sih. Yaitu, GAGAL. Ya, kedua-duanya mengalami kegagalan dalam membangun ekonomi di tempat masing-masing. Tokugawa Muneharu yang merupakan shogun ke 8 dan ditunjuk sebagai daimyou di Nagoya (kalo dalam sejarah Indonesia mungkin kayak Panglima Gajah Mada gitu kali….) memang sempat membawa Nagoya
dalam kemajuan ekonomi yang sangat mencolok, sampai membuat iri daerah kekuasaan Tokugawa yang lain. Tapi sayang kemajuan ekonomi yang dicapai adalah semu. Sampai akhir masa pemerintahannya pemerintah mengalami kerugian, sehingga dia diturunkan dari jabatan dan dikucilkan.
Kalo si Keinezian….. hmmmm…….. terus terang aku juga masih kurang ngerti tentang paham dia. Singkatnya paham dia itu bertentangan dengan paham lama yaitu The law of Sei yang mengatakan “Supply creates its own demand”. Dengan kata lain si Keinezian itu mengatakan “Demand creates its own Supply”. Apanya yang sama ya?????
Hahhh… tahulah tapi alhamdulillah selesai juga laporanku. Hi..Hi…Hi….
Diarsipkan di bawah: Ekonomi
Matushita Konosuke, pendiri Matushita Denki Sangyo (Matsushita Electronic Corporation) mempunyai suatu filsafat dalam menjalankan manajemen bisnisnya yang perlu kita tiru. Yaitu filsafat air ledeng — apaan tuh???–
Di dunia materialis seperti sekarang ini, apabila seseorang mengambil barang bernilai kita maka kita akan menyalahkannya dan menuduhnya mencuri. Ini adalah suatu hal yang wajar adanya. Tapi, bagaimana kalo misalnya ada seorang yang mampir ke sumur kita dan meminum air dari ledeng kita? Apakah kita akan menyalahkannya dan menuduhnya mencuri? tentu saja tidak kan? Kenapa? Apakah air adalah barang yang tidak bernilai bagi kita? Tentu saja kita akan menjawab tidak.
Melihat fenomena ini Matushita Konosuke mengambil suatu pelajaran. Air, sama saja seperti udara yang sangat penting bagi kehidupan kita. Tanpa air kita tidak akan bisa hidup. Segitu pentingnya yang namanya air pun karena jumlahnya yang melimpah kita bisa mengizinkan orang lain untuk mengambilnya. Lalu apa hubungannya dengan manajemen?
Apa yang harus dilakukan seorang manajer melalui perusahaannya adalah menyediakan barang-barang kebutuhan masyarakat yang mudah didapatkan oleh semua lapisan masyarakat dengan mudah seperti halnya air ledeng. Dengan kata lain, tugas seorang manajer adalah bagaimana bisa meminimalkan harga produksi sehingga harga jual bisa di tekan serendah-rendahnya dan bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Tugas manajer adalah sebuah tugas suci. Sebuah tugas kemanusiaan. Seorang manajer tidak seharusnya hanya memikirkan bagaimana perusahaan mandapatkan keuntungan yang besar, tapi juga harus memikirkan sudahkah dia menyejahterakan masyarakat melalui perusahaan yang dipimpinnya? Sudahkah para manajer kita memikirkan hal itu?