Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Novel)
A
ku mulai mengenal buku-buku Tere Liye sejak pertama kali membaca Bidadari-bidadari Surga. Gaya penulisannya yang deskriptif dan unik, juga setting tokoh utama yang tidak selalu ‘PUTIH’ membuatku menyukai buku-bukunya. Buku ini adalah buku ketiga yg kubaca. (cukup susah mendapatkan buku-bukunya karena sedang berdomisili di luar negeri).
Novel ini adalah sebuah ‘fantasi’ ala Tere Liye yg bercerita tentang Ray/Rehan yang diberi kesempatan untuk menoleh kembali ke belakang, ke masa lalunya, sebelum ajal menjemputnya. Dia juga diberi kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya.
Ray pun seolah-olah mengendarai mesin waktu, mampu melihat dan mengulang lagi kenangan2nya dengan jelas. Hidupnya sudah begitu keras sejak kecil. Yatim piatu, Menjadi anak jalanan, menjambret, merasakan punya ‘keluarga’ untuk pertama kalinya, kemudian sendiri lagi dan mengutuk, menyalahkan orang-orang sekitarnya. Merasakan kebahagiaan bersama ‘gigi kelinci’-nya. Sebuah kehagiaan yang sementara karena terenggut oleh takdir. Dia pun mengutuk langit dan Tuhan.
Dia pun mengenang kembali malam-malam kesendiriannya yang hanya ditemani sang purnama. Merasakan kekosongan hidup meskipun dipenuhi gelimangan harta. Kembali mengutuk Tuhan atas nasibnya.
Begitulah hidupnya sampai akhirnya di penghujung nyawanya. Tuhan berbaik hati mengirimkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya. 5 pertanyaan yang sebenarnya dipertanyakan juga oleh setiap orang. Pertanyaan tentang takdir, keputusan langit yang pahit, perpisahan, kekosongan hidup dan tentang sebab akibat.
Novel ini seolah memberitahu bahwa hidup itu memang keras, tapi sebenarnya sederhana, sungguh sangat sederhana. Bekerja keras namun selalu merasa cukup. Senang berbuat baik dan berbaagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, bila kita sudah mampu melaksanakannya, kita sejatinya sudah menggenggam kebahagiaan hidup ini.
Salah satu quote favorit:
“Ray, kehidupan ini selalu adil. Keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah, urusan ini terlanjur sulit bagimu, karena kau selalu keras kepala”
Posted on Desember 12, 2011, in Buku, Koleksi and tagged Novel, rembulan tenggalam di wajahmu, resonansi, Tere-liye. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

kayaknya menarik buku ini