Diarsipkan di bawah: serba-serbi
Dalam 2 bulan terakhir ini ada dua berita tentang pembunuhan tak pandang bulu di Jepang. Kejadian pertama, yang ini yang paling heboh, adalah kejadian di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Tokyo, Akihabara yang menewaskan 7 orang dan melukai setidaknya 10 orang, 5 orang diantara mereka dinyatakan gagal jantung. Kejadian ini terjadi pada tanggal 8 Juni lalu. Tersangka menabrak para penyeberang jalan di sana yang langsung menewaskan 3 orang. Setelah truknya berhenti dia turun dan menusukkan pisaunya ke setiap orang yang ditemuianya sehingga menewaskan 4 orang dan melukai 10 orang lainnya. Kalo saja seorang polisi yang kebetulan berada di situ tidak menodongkan pistolnya, tersangka tidak akan berhenti menusukkan pisaunya.
Kejadian kedua baru terjadi sekitar seminggu yang lalu, tanggal tepatnya aku lupa. Tanpa sebab jelas seorang lelaki menusukkan pisau ke pegawai sebuah toko buku sehingga menewaskannya. Kali ini korbannya Cuma 1 orang saja.
Kedua pelaku kejadian itu sepertinya mempunyai motif yang sama. Yaitu “MOTIF GAK JELAS”. Tanpa sebab tertentu membunuh orang yang tak dikenal. Kedua pelaku mengatakan kalau mereka sudah “bosan dan capek hidup”. Lalu kenapa gak bunuh diri saja? Kenapa harus bunuh orang lain?
Cara mengatasi “kebosanan hidup” orang Jepang kayaknya sudah mulai berevolusi nih. Dulu orang Jepang kalo sudah bosan atau capek hidup mereka akan bunuh diri. Sampai dikatakan jumlah kematian orang Jepang dengan jalan “bunuh diri” setiap tahunnya adalah 3 kali lipatnya jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Tapi sekarang…… jadi bunuh orang.
Yah…. Itulah jadinya kalo manusia terlalu memusatkan pikirannya pada DUNIA. Kalo DUNIAnya sudah mulai kolaps dan terombang-ambing mereka tidak punya pegangan lagi. Pada dasarnya kedua tersangka mempunyai satu keinginan yang sama yaitu ingin diakui keberadaannya oleh orang lain. Mereka tidak puas dengan diri mereka yang sekarang. Namun sayang cara yang mereka tempuh salah. Sama halnya dengan seorang pemuda yang ingin diakui keberadaannya dengan jalan mengecat rambutnya atau menindik telinga dan hidungnya atau menyobek bagian lutut celana jeansnya atau mengendarai motor dengan suara bising dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Kenapa… kok gak cari cara yang lebih positif sih?????
Wah nulisnya jadi ngelantur kemana-mana nih.
“Kenapa kamu mau masuk fakultas ekonomi?” Tanya seorang sensei di sekolah bahasa Jepangku dulu waktu konsultasi masalah kelanjutan kuliah. Akupun waktu itu hanya menjawab sekenanya saja.
“Lalu bagaimana menurutmu tentang masa depan ekonomi Jepang?” Tanya senseiku lagi.
“Saya pikir ekonomi Jepang akan terus maju.” Itupun aku jawab dengan sekenanya. Barang-barang made in Japan yang menyebar ke seluruh Negara di dunia, Toyota yang jadi produser mobil nomor 1 dunia, Sony, Toshiba dan beberapa perusahaan kelas dunia asal Jepang. Kalau melihat semua itu sekilas siapapun akan berkata kalau ekonomi Jepang akan terus maju.
Tapi senseiku tapi menjawab jawabanku tadi dengan muka sinis tanpa bertanya lebih jauh lagi.
_____________________
少子高齢化(shoushikoureika), dalam bahasa inggris disebut juga dengan Population aging, adalah suatu fenomena dimana angka kelahiran suatu negara lebih kecil daripada angka kematiannya sehingga dari tahun ketahun jumlah bayi menurun dan jumlah manula meningkat terus. Fenomena ini sering terjadi di Negara-negara maju termasuk Jepang dan bisa menjadi suatu masalah yang sangat serius kalau tidak bisa ditangani cepat.
Angka kematian menurun merupakan suatu hal yang menyenangkan. Itu tandanya pengobatan di Jepang sudah maju. Tapi menurunnya angka kematian ini dibarengi dengan menurunnya juga angka kelahiran. Menurut perkiraan badan sensus penduduk Jepang yang diumumkan pada tahun 2006 lalu, Jumlah penduduk Jepang yang waktu itu berjumlah 127,77 juta jiwa, pada tahun 2055 akan berkurang sekitar 10 persen. Selain itu Population aging akan menjadikan Jepang sebagai Negara dengan populasi piramida terbalik.
Memang apa masalahnya???
Dalam bidang ekonomi ini merupakan suatu masalah yang serius. Bagaimana keadaan Jepang 50 tahun kedepan? Jika angka kelahiran Jepang tidak meningkat dan perkiraan yang diumumkan oleh badan sensus penduduk Jepang itu benar-benar terjadi, maka ekonomi Jepang akan berada dalam keadaan krisis. Jumlah penduduk usia produktif 50 tahun mendatang akan menurun sedangkan jumlah penduduk usia manula terus menaik.
Apabila jumlah manula naik, Negara harus mengucurkan dana lebih banyak untuk membiayai bidang kesejahteraan masyarakat, pengobatan dan kesehatan, uang pensiun dan segala yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Artinya pengeluaran Negara juga bertambah.
Di sisi lain, Jumlah penduduk usia produktif menurun. Dengan demikian jumlah pekerja menurun, penerimaan pajak Negara juga menurun. Lalu GDP juga menurun. Dengan kata lain pemasukan Negara menurun.
Pengeluaran terus bertambah di kala pemasukan terus menurun. Apa yang akan terjadi disaat seperti itu? Hmmmm…… ekonomi Negara akan kolaps. Mampukah Jepang keluar dari keadaan seperti ini? Ya….. kita tunggu saja tanggal mainnya.
________________________
Sekarang aku mengerti kenapa senseiku dulu bermuka sinis.