Yanisalfian’s Weblog


Louis Vuitton
Juni 28, 2008, 10:22 am
Diarsipkan di bawah: serba-serbi

Cerita ini terjadi sekitar setahun setengah yang lalu. Waktu itu musim dingin. Aku berangkat menuju tempat kerja dengan jaket tebal dibalut dengan syal hadiah ulang tahun dari seorang sahabat sebelum datang ke Jepang.

“Ohayou gozaimasu” sapaku kepada tencho (kepala toko). Aku pun segera berganti seragam kerja dan menggantungkan jaket dan syalku. Waktu kerja tenchoku yang seorang wanita mendekatiku sambil bertanya,

“Kamu di Indonesia pasti orang kaya, ya?”

“He..?” aku pun keheranan.

“Tuh, kamu bisa beli syal seperti itu.” Aku pun makin keheranan. Emang syal yang kupake semahal apa? Ngobrol punya Ngobrol akhirnya aku bisa menangkap maksud dari ucapan tenchoku tadi. Ternyata syalku itu bukan syal biasa, di syal yang kupake ada lambang LV nya. Alias Louis Vuitton.

“Emang apa salahnya dengan Louis Vuitton?” Aku masih tetap belum bisa menangkap sebab kekaguman tenchoku itu.

“He… kamu nggak tahu ya, Louis Vuitton itu kan mahal banget.”

sou ka…” jawakbu singkat.

Orang yang nggak ngerti fashion kayak aku ini mana tahu kalo lambang LV yang tertera di syalku itu ternyata adalah merek terkenal. Di Jepang tas, dompet atau pakaian yang bermerek Louis Vuitton harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Teman satu shiftku yang juga seorang cewek tiba-tiba ikutan nimbrung dan mengagumi syalku.

“Yanis-san te sugoi yo ne… pasti orang kaya deh,”

Hhhhh….. mendokusai na… menghadapi dua orang cewek yang terkagum-kagum dengan sebuat merek. Memang benar di syalku itu ada lambang LV, tapi aku sendiri tidak yakin kalo syalku itu adalah asli bermerek LV. Di Indonesia mana ada barang yang tidak bisa dipalsu. Tas dan dompet bermerek Gucci aja bertebaran di mana-mana dan bisa di dapatkan dengan mudah. Aku pun tidak berani menanyakan hal ini kepada sahabatku yang sudah susah payah membelikan hadiah ulang tahunku, syal ini asli LV atau nggak.

Di Jepang kasus pemalsuan merek itu tidak ada. Pantaslah kalo mereka mengira kalo syal yang kupakai itu adalah asli bermerek LV. Aku pun tidak berani mengatakan kepada mereka kalo syalku ini asli palsunya tidak tahu.

———–

Aku itu orangnya tidak terlalu mengambil hati dengan merek. Baju, tas, dompet, jaket dan tetek bengek yang berhubungan dengan fashion, menurutku asal nyaman di pake, model bagus, enak dipandang, itu sudah cukup. Mau bermerek atau nggak ya terserah. Beda dengan orang Jepang. Sepertinya merek adalah nomor 1. Setelah itu baru desain dan penampilannya.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman menunjukkan dompet bermerek Gucci yang baru saja dibelinya melalui internet dengan harga 30ribu yen atau sekitar 2,7 juta rupiah. Hanya untuk sebuah dompet???? 2,7 juta rupiah????? Kalo beli di toko-toko biasa, dompet dengan desain dan kualitas yang bisa dibilang sama, harganya paling mahal mungkin sekitar 6 ribu yen atau sekitar 570 ribu rupiah. Sayang banget kupikir uangnya. Padahal uang yang ada di dalam dompet mungkin gak sebanyak harga dompetnya kali ya???

“Yah… sekali-kali beli yang bermereka lah…” katanya.


1 Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan

sou…ka…
yanis miss u.
tulisan kamu ini bagus banget
kamu emang berbakat dalam tulis-menulis

Comment oleh fadjar pradika




Tinggalkan sebuah tanggapan
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>