Diarsipkan di bawah: serba-serbi
Setelah 2 bulan lamanya sholat Dzuhur di tempat yang pindah-pindah dalam kampus. Alhamdulillah sekarang aku punya tempat tetap buat sholat dzuhur.
Kuliah dari pagi sampai sore mengharuskan aku untuk melewati waktu dzuhur dalam kampus. Namanya juga Jepang, negara non muslim mana ada yang namanya masjid atau mushollah dalam kampus? Ini membuatku agak kesulitan karena aku adalah satu-satunya muslim dalam kampus. Bagaimana nih sholat dzuhurnya?
“Udah di jamak aja sama ashar, Orang kita juga sedang dalam safar menuntut ilmu di jalan Allah kok,” ada seseorang yang menyarankanku seperti itu. Dan aku mengiyakan. Selama satu bulan lebih sejak pertama kali masuk kuliah pada April lalu, aku selalu menjamak sholat dzuhur di waktu ashar. Tapi, lama kelamaan ada yang terasa mengganjal dalam hatiku. Untuk apa aku menjamak, padahal kalo dipikir waktu untuk bisa melaksanakan sholat dzuhur sangat cukup (dari jam 12 sampai jam 1 siang istirahat). Kalo masalah tempat sholat bukannya aku bisa sholat di mana saja? Begitu suara yang mengganjal dalam hatiku.
Akhirnya mulailah aku searching tempat-tempat yang jarang dilewati orang dalam kampus. Alhamdulillah ada beberapa tempat yang cocok untuk sholat. Tapi tempat yang paling kusuka adalah di atap salah satu gedung berlantai 7 dalam kampus. Pas, kalo di situ gak ada yang bakal lewat. Apalagi ada dinding setinggi badanku, jadi kalopun ada yang lewat gak akan ketahuan.
Yah…. untuk beberapa saat aku manjadikan markas persembunyian tersebut buat tempat sholat. Sampai akhirnya 2 minggu yang lalu aku memberanikan diri untuk meminta ijin salah satu dosenku untuk sholat di kantor penelitiannya. Dosenku ini berasal dari fakultas hum an sosial. Penelitiannya adalah tentang salah satu suku yang ada di Filipina sambil membandingkannya dengan salah satu suku di Sulawesi Indonesia.
Bahasa Indonesianya lancar man. Bahasa Tagalog dan Inggris apalagi, karena penelitiannya kan terkonsentrasi di Filipina. Beliau sudah berulang kali bolak-balik Jepang-Filipina-Indonesia dalam rangka penelitiannya. Maka dari itu beliau tidak asing lagi dengan yang namanya sholat. Ketika aku minta ijin untuk memakai kantor penelitiannya untuk sholat dia langsung saja mengiyakan. “ii yo, ii yo, douzo tsukatte kudasai,” katanya. Beliau juga langsung menawarkan tikar pandan yang beliau beli di Filipina dulu buat alas sholat.
Alhamdulillah sekarang aku sudah dapet tempat sholat dzuhur yang tetap.
4 Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh,
Hmm..menarik juga pengalamanmu sholat selama masa kuliah. Penuh lika-liku dan perjuangan. Salut!
Pengalaman tinggal di negeri dimana muslim menjadi masyarakat minoritas memang perlu perjuangan dan kesabaran yang lebih.
Sampai sekarangpun, kalau mau pergi-pergi, aku masih pikir-pikir dulu nanti mau sholat di mana. Tapi, Alhamdulillah, Nis, aku sedikit lebih beruntung kalau kalau sedang kuliah karena di perpustakaan kampus ada ruangan bersekat yang disediakan khusus untuk sholat. Benar-benar nikmat yang harus disyukuri.
Wallahul muwaffiq ila aqwamiththariiq
Comment oleh Muhammad Fathul Ihsan Juni 13, 2008 @ 2:50 pmWassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
assalamualaikum ..
yang terhornat, temen saya, Prof. Dr. Yanis Alfian, MIRKH. ditempat.
mungkin terlalu lancang bagi kami, teman lama anda membuka webblog anda. tapi apalah daya, demi terjalinnya memori kenangan ketika kita belajar dulu di kampung terpencil yang penuh kedamaian.
salam
Lintang Parahening678
Comment oleh Lintang Parahening Juni 14, 2008 @ 7:07 amtanpa kenal lelah jemu…
Comment oleh fadjar pradika Juli 17, 2008 @ 11:33 pmsampaikan firman tuhanmu…
nyambung nggak sih?
mas, kang, minta tolong kirimkan script registernya ya. lewat email aja. freebookaja@gmail.com tenkyu..
oya, pye kabare di jepun? dah pada sukses ya? wesss jadi ngiri neh hehe
Comment oleh Mas Djoen September 3, 2008 @ 1:12 pm