Yanisalfian’s Weblog


Agama orang Jepang
Mei 5, 2008, 9:23 am
Diarsipkan di bawah: Kajian

Sejak SD sampai SMA di Indonesia guru di sekolah selalu mengajarkan kalo agama mayoritas di jepang adalah agama Shinto. Setelah datang ke Jepang dan menyaksikan sendiri kehidupan orang Jepang, aku ragu kalo mengatakan bahwa mayoritas agama mereka adalah Shinto.

Agama Shinto yang merupakan salah satu bentuk agama politeisme, memang pernah dianut oleh masyarakat Jepang dan diakui sebagai agama resmi Jepang dari masa restorasi Meiji, tapi kemudian menghilang bersamaan dengan berakhirnya perang dunia II. Sebagian besar ajaran agama Shinto yang dianggap penting dan dilaksanakan pada masa perang mulai ditinggalkan dan hanya tinggal kenangan.

Terus orang Jepang sekarang agamanya apa? Sebagian kecil dari mereka masih ada yang menganut agama Budha, namun sebagian besar orang Jepang pada masa dewasa ini tidak menganut suatu agama tertentu. Orang Jepang memang unik, mereka mempercayai adanya Tuhan tapi tidak menganut suatu ajaran agama tertentu. Senseiku di sekolah bahasa Jepang dulu pernah bilang, Tuhan orang Jepang itu bisa berbentuk apa saja. Kalo dia menganggap dalam pohon ada tuhan maka dia akan menyembahnya, kalo dia menganggap Tuhan itu dalam botol maka dia juga akan menyembahnya.

Aku pernah berdiskusi dengan temanku waktu jam makan siang masalah agama orang Jepang. Dia bilang, orang Jepang tidak menganut agama tertentu bukan karena mereka tidak percaya adanya Tuhan. Dalam diri orang Jepang ada kepercayaan tentang Tuhan. Setelah bicara agak lama, aku menangkap kata “tuhan” dalam kamus dia adalah dewa-dewa atau ruh alam, bukan seperti Tuhan dalam kamusku yang aku kenal sebagai pencipta alam semesta dan seisinya. Seorang temanku orang Jepang yang lain pernah bilang, yang dianggap sebagai tuhan oleh orang Jepang itu sebenarnya adalah ruh para leluhur mereka. Orang Jepang itu nggak percaya sama adanya tuhan, kalo emang percaya kenapa nggak nganut agama? begitu katanya.

Orang Jepang memang unik. Mereka tidak menganut agama Kristen tapi ikut merayakan Natal. Banyak juga orang Jepang yang bukan Kristen tapi menikah di gereja. Dari sudut pandangku mereka sepertinya hanya menyukai hingar bingar perayaan. Mereka ke kuil hanya kalo lagi butuh aja atau sekedar membeli jimat. Orang Jepang memang perpaduan yang unik.


1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Aku punya cerita yang kudapat dari Bapakku ketika berkesempatan tinggal di Jepang. Beliau melakukan kerjasama penelitian dengan salah satu universitas di sana.
Ini tentang kuil-kuil di Jepang. Berbeda dengan masjid-masjid milik muslimin dimana sholat fardhu lima waktu dilakukan secara rutin di sana (walaupun mayoritasnya kalau waktu subuh jama’ahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan…astaghfirullah, falnuhaasib anfusanaa). Tidak ada namanya waktu sembahyang lima waktu di kuil, aku kurang ngerti juga jadwal rutin mereka. Apakah mingguan seperti di gereja atau gimana? (tolong beritahu, Nis! setelah browsing-browsing, belum ketemu juga) Selain waktu rutin itu (kalau ada) mereka (yang sembahyangnya di kuil) bisa datang sewaktu-waktu (mungkin ini jadwal sembahyangnya, sewaktu-waktu). Tapi bukan berarti masjid tidak boleh didatangi sewaktu-waktu lho! (pengajian kan bisa sewaktu-waktu, selain itu masjid juga bisa digunakan untuk kegiatan keislaman lain-zaman Rasul SAW. dipakai untuk musyawarah, dll-)
Nah, ini yang jadi pengalaman Bapakku. Tampak oleh beliau bahwa yang datang di kuil-kuil kebanyakan adalah para pemilik wajah kusut karena memikul beratnya beban hidup. Itulah mereka yang baru ingat untuk datang ke kuil setelah merasa pusing dan penat dengan berbagai persoalan untuk meminta tolong kepada dewa-dewa mereka.
Dang…! Bagaimana dengan diriku, dirimu dan semua muslim yang lain dalam hal ingat kepada Allah Rabbul ‘aalamiin? Falnuhaasib anfusanaa…

Allahummaj’alnaa minalladziina yastami’uunal qaula fayattabi’uuna ahasanah

Wassalamualaiakum,
Muhammad Fathul Ihsan

Komentar oleh Muhammad Fathul Ihsan




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>