Khutbah Jum’at Hari Ini

Nagoya_MosqueKhutbah Jum’at di masjid Nagoya yang terletak di Honjin hari ini (12/30) diisi oleh seorang khotib warga Jepang yang muslim. Isinya cukup menarik. Ingin rasanya sedikit berbagi isi khutbah tadi.

Sang khotib menceritakan kisah tentang anaknya yang sekarang duduk di bangku SMA ketika dia meminta ijin untuk beribadah (sholat) kepada gurunya, sekaligus meminta tempat yang bisa dipakai untuk melaksanakannya. Sang guru kemudian menjawab, “Kami tidak memiliki hak untuk menghalangi kepercayaan seseorang, silahkan saja pakai ruangan ini jika kamu mau sholat.”

Maksud dari sang khotib menceritakan cerita ini adalah, dia ingin menekankan satu hal bahwa berada di Jepang tidak menghalangi kita dalam beribadah, dalam  ber-Islam.

Kita, baik itu pendatang ataupun penduduk asli, baik yang pelajar ataupun pekerja, sama seperti orang Jepang lainnya. Kita membayar pajak kepada negara sebagai ungkapan kewajiban kita sebagai warga negara, maka tidak salah kalau kita meminta hak kita. Sebuah hak untuk mempunyai keyakinan dan beribadah sesuai dengan keyakinan tersebut. Hal ini diperbolehkan dan dijaga oleh hukum di Jepang.

Meskipun demikian tentunya pengertian dari tiap individu orang Jepang terhadap kita bervariasi. Ada yang menerima ada juga yang mencibir. Ini adalah masalah individu antara kita dan mereka. Semuanya tergantung bagaimana kita memberikan pengertian kepada mereka.

Ber-Islam di Jepang memang banyak sekali keterbatasan. Sedikitnya tempat ibadah, sempitnya masjid, dan sebagainya. Itu semua karena jumlah muslim di Jepang masih sangat sedikit. Namun demikian, kita masih perlu bersyukur, karena ada negara-negara di belahan dunia lainnya yang bahkan tidak memperbolehkan muslim untuk sholat. Jepang masih toleran.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Novel)

ARembulan Tenggelam di Wajahmuku mulai mengenal buku-buku Tere Liye sejak pertama kali membaca Bidadari-bidadari Surga. Gaya penulisannya yang deskriptif dan unik, juga setting tokoh utama yang tidak selalu ‘PUTIH’ membuatku menyukai buku-bukunya. Buku ini adalah buku ketiga yg kubaca. (cukup susah mendapatkan buku-bukunya karena sedang berdomisili di luar negeri).

Novel ini adalah sebuah ‘fantasi’ ala Tere Liye yg bercerita tentang Ray/Rehan yang diberi kesempatan untuk menoleh kembali ke belakang, ke masa lalunya, sebelum ajal menjemputnya. Dia juga diberi kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya.

Ray pun seolah-olah mengendarai mesin waktu, mampu melihat dan mengulang lagi kenangan2nya dengan jelas. Hidupnya sudah begitu keras sejak kecil. Yatim piatu, Menjadi anak jalanan, menjambret, merasakan punya ‘keluarga’ untuk pertama kalinya, kemudian sendiri lagi dan mengutuk, menyalahkan orang-orang sekitarnya. Merasakan kebahagiaan bersama ‘gigi kelinci’-nya. Sebuah kehagiaan yang sementara karena terenggut oleh takdir. Dia pun mengutuk langit dan Tuhan.

Dia pun mengenang kembali malam-malam kesendiriannya yang hanya ditemani sang purnama. Merasakan kekosongan hidup meskipun dipenuhi gelimangan harta. Kembali mengutuk Tuhan atas nasibnya.

Begitulah hidupnya sampai akhirnya di penghujung nyawanya. Tuhan berbaik hati mengirimkan jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya. 5 pertanyaan yang sebenarnya dipertanyakan juga oleh setiap orang. Pertanyaan tentang takdir, keputusan langit yang pahit, perpisahan, kekosongan hidup dan tentang sebab akibat.

Novel ini seolah memberitahu bahwa hidup itu memang keras, tapi sebenarnya sederhana, sungguh sangat sederhana. Bekerja keras namun selalu merasa cukup. Senang berbuat baik dan berbaagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, bila kita sudah mampu melaksanakannya, kita sejatinya sudah menggenggam kebahagiaan hidup ini.

Salah satu quote favorit:

“Ray, kehidupan ini selalu adil. Keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah, urusan ini terlanjur sulit bagimu, karena kau selalu keras kepala”

Hati Ayam.. Just a Joke

kokoro.gifPada suatu hari seorang ibu-ibu yang baru saja datang ke Jepang beberapa minggu (kemampuan bahasa Jepangnya pun pas-pasan) pergi ke supermarket untuk belanja keperluan makan malam. Rencananya dia mau masak semur hati.

Di supermarket dia bertanya kepada salah seorang pelayan, “niwatori no kokoro arimasuka?”

Sang pelayan supermarket pun hanya terdiam sambil garuk-garuk kepala tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ibu itu.

————————————————————

鶏の心ありますか (niwatori no kokoro arimasuka)

鶏 (niwatori) artinya ‘ayam’. 心 (kokoro) artinya ‘hati’. の (no) adalah variabel yg menunjukkan kepunyaan. ありますか (arimasuka) artinya ‘adakah?’

Kalo diterjemahkan secara letterlek, maksud dari pertanyaan ibu tersebut ke pelayan adalah: “apakah ada hati ayam?”. Ya… tidak ada yang salah sih.

Masalahnya ‘HATI’ dalam bahasa Indonesia itu mempunyai dua makna. Yang pertama adalah ‘HATI’ yang berarti anggota organ tubuh, seperti dalam kata ‘Aku makan hati ayam’. Dan yang kedua adalah ‘HATI’ yang berarti ‘perasaan’ seperti dalam kata ‘Kau melukai hatiku’.

Dalam bahasa Jepang kedua makna itu diekspresikan dengan dua kata yang berbeda. ‘HATI’ dengan arti anggota organ tubuh adalah 肝臓 (kanzou), sedangkan ‘HATI’ dengan arti ‘perasaan’ adalah 心 (kokoro)

Seharusnya ibu tadi tidak mengatakan 心 (kokoro) melainkan 肝臓 (kanzou). Pantesan aja kan sang pelayan cuma bisa garuk-garuk kepala gak ngerti apa yang dimaksud sang ibu.

Mana ada yang jualan HATI (baca: perasaan) sang ayam. Kalo mau, minta aja sendiri ke ayamnya sana, mungkin dia mau memberikan HATInya kalo sang ibu berusaha keras merayu sang ayam… :p

Lomba Pidato Bhs Indonesia

Hari Minggu (20/11) yang lalu diadakan lomba pidato bahasa Indonesia di Universitas Nanzan, Nagoya. Lomba ini sudah menjadi agenda rutin yang diadakan atas kerja sama antara Fakultas Bahasa Asing, Universitas Nanzan, Atase Pendidikan KBRI dan Persatuan Pelajar Indonesia. Saat ini lomba semacam ini sudah bukan hanya diadakan di Universitas Nanzan saja tapi sudah tersebar di beberapa kota besar di Jepang seperti Tokyo dan Osaka. Menurut Atase Pendidikan KBRI, waktu pembukaan lomba, satu hari sebelumnya diadakan acara yang sama di Tokyo.

Tahun ini merupakan keempat kalinya lomba semacam ini diadakan di Jepang. Dan untuk pertama kalinya lomba pembacaan puisi bahasa Indonesia dimasukkan.Pesertanya, tentu saja ORANG JEPANG. Belasan orang dari beberapa kalangan saling adu ketangkasan dalam membacakan puisi dan beretorasi dalam bahasa Indonesia. Sebagian ada dari kalangan mahasiswa, ada yang dari kalangan umum, ada juga seorang diplomat, ada juga 2 orang peserta yang masih duduk di bangku SMA, ada juga seorang ibu rumah tangga.

Menyenangkan sekali melihat dan mendengarkan orang Jepang membaca puisi dan berpidato dalam bahasa Indonesia. Ada yang masih terdengar seperti cadel tidak bisa terbedakan antara ‘R’ dan ‘L’, Read the rest of this entry

Inikah Takdir

Inikah Takdir…

Seberapa besarpun usaha manusia dalam menggapai apa yang diinginkannya, tetaplah tiada arti dihadapan satu hal yang bernama TAKDIR. Tapi… Benarkah ini adalah salah TAKDIR?

Pada awalnya, apa di dalam TAKDIR itu ada salah dan benar? Apa di dalamnya ada baik dan buruk? Apa di dalamnya ada hitam dan putih?

TAKDIR adalah TAKDIR. Salah benar, baik buruk, hitam putih, bukankah semua itu tak lain dan tak bukan adalah seenaknya manusia saja yang menilai.

TAKDIR tak bisa kita salahkan. Apalah ia? Ia hanyalah sebuah HASIL dari usaha manusia dengan tambahan kehendak TUHAN.

Maka berusahalah sekuat tenaga, berdoalah sesering dan sebanyak-banyaknya, kemudian bertawakkallah, serahkan hasilnya pada TUHAN.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.