Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Sudah lama nih gak nulis. Mulai hari ini aku pindah lagi ke yanisalfian.co.cc. Thanks buat 000webhost.com atas webhost gratisannya dan www.co.cc atas domain gratisnya
Diarsipkan di bawah: serba-serbi
Dalam 2 bulan terakhir ini ada dua berita tentang pembunuhan tak pandang bulu di Jepang. Kejadian pertama, yang ini yang paling heboh, adalah kejadian di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Tokyo, Akihabara yang menewaskan 7 orang dan melukai setidaknya 10 orang, 5 orang diantara mereka dinyatakan gagal jantung. Kejadian ini terjadi pada tanggal 8 Juni lalu. Tersangka menabrak para penyeberang jalan di sana yang langsung menewaskan 3 orang. Setelah truknya berhenti dia turun dan menusukkan pisaunya ke setiap orang yang ditemuianya sehingga menewaskan 4 orang dan melukai 10 orang lainnya. Kalo saja seorang polisi yang kebetulan berada di situ tidak menodongkan pistolnya, tersangka tidak akan berhenti menusukkan pisaunya.
Kejadian kedua baru terjadi sekitar seminggu yang lalu, tanggal tepatnya aku lupa. Tanpa sebab jelas seorang lelaki menusukkan pisau ke pegawai sebuah toko buku sehingga menewaskannya. Kali ini korbannya Cuma 1 orang saja.
Kedua pelaku kejadian itu sepertinya mempunyai motif yang sama. Yaitu “MOTIF GAK JELAS”. Tanpa sebab tertentu membunuh orang yang tak dikenal. Kedua pelaku mengatakan kalau mereka sudah “bosan dan capek hidup”. Lalu kenapa gak bunuh diri saja? Kenapa harus bunuh orang lain?
Cara mengatasi “kebosanan hidup” orang Jepang kayaknya sudah mulai berevolusi nih. Dulu orang Jepang kalo sudah bosan atau capek hidup mereka akan bunuh diri. Sampai dikatakan jumlah kematian orang Jepang dengan jalan “bunuh diri” setiap tahunnya adalah 3 kali lipatnya jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Tapi sekarang…… jadi bunuh orang.
Yah…. Itulah jadinya kalo manusia terlalu memusatkan pikirannya pada DUNIA. Kalo DUNIAnya sudah mulai kolaps dan terombang-ambing mereka tidak punya pegangan lagi. Pada dasarnya kedua tersangka mempunyai satu keinginan yang sama yaitu ingin diakui keberadaannya oleh orang lain. Mereka tidak puas dengan diri mereka yang sekarang. Namun sayang cara yang mereka tempuh salah. Sama halnya dengan seorang pemuda yang ingin diakui keberadaannya dengan jalan mengecat rambutnya atau menindik telinga dan hidungnya atau menyobek bagian lutut celana jeansnya atau mengendarai motor dengan suara bising dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Kenapa… kok gak cari cara yang lebih positif sih?????
Wah nulisnya jadi ngelantur kemana-mana nih.
“Kenapa kamu mau masuk fakultas ekonomi?” Tanya seorang sensei di sekolah bahasa Jepangku dulu waktu konsultasi masalah kelanjutan kuliah. Akupun waktu itu hanya menjawab sekenanya saja.
“Lalu bagaimana menurutmu tentang masa depan ekonomi Jepang?” Tanya senseiku lagi.
“Saya pikir ekonomi Jepang akan terus maju.” Itupun aku jawab dengan sekenanya. Barang-barang made in Japan yang menyebar ke seluruh Negara di dunia, Toyota yang jadi produser mobil nomor 1 dunia, Sony, Toshiba dan beberapa perusahaan kelas dunia asal Jepang. Kalau melihat semua itu sekilas siapapun akan berkata kalau ekonomi Jepang akan terus maju.
Tapi senseiku tapi menjawab jawabanku tadi dengan muka sinis tanpa bertanya lebih jauh lagi.
_____________________
少子高齢化(shoushikoureika), dalam bahasa inggris disebut juga dengan Population aging, adalah suatu fenomena dimana angka kelahiran suatu negara lebih kecil daripada angka kematiannya sehingga dari tahun ketahun jumlah bayi menurun dan jumlah manula meningkat terus. Fenomena ini sering terjadi di Negara-negara maju termasuk Jepang dan bisa menjadi suatu masalah yang sangat serius kalau tidak bisa ditangani cepat.
Angka kematian menurun merupakan suatu hal yang menyenangkan. Itu tandanya pengobatan di Jepang sudah maju. Tapi menurunnya angka kematian ini dibarengi dengan menurunnya juga angka kelahiran. Menurut perkiraan badan sensus penduduk Jepang yang diumumkan pada tahun 2006 lalu, Jumlah penduduk Jepang yang waktu itu berjumlah 127,77 juta jiwa, pada tahun 2055 akan berkurang sekitar 10 persen. Selain itu Population aging akan menjadikan Jepang sebagai Negara dengan populasi piramida terbalik.
Memang apa masalahnya???
Dalam bidang ekonomi ini merupakan suatu masalah yang serius. Bagaimana keadaan Jepang 50 tahun kedepan? Jika angka kelahiran Jepang tidak meningkat dan perkiraan yang diumumkan oleh badan sensus penduduk Jepang itu benar-benar terjadi, maka ekonomi Jepang akan berada dalam keadaan krisis. Jumlah penduduk usia produktif 50 tahun mendatang akan menurun sedangkan jumlah penduduk usia manula terus menaik.
Apabila jumlah manula naik, Negara harus mengucurkan dana lebih banyak untuk membiayai bidang kesejahteraan masyarakat, pengobatan dan kesehatan, uang pensiun dan segala yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Artinya pengeluaran Negara juga bertambah.
Di sisi lain, Jumlah penduduk usia produktif menurun. Dengan demikian jumlah pekerja menurun, penerimaan pajak Negara juga menurun. Lalu GDP juga menurun. Dengan kata lain pemasukan Negara menurun.
Pengeluaran terus bertambah di kala pemasukan terus menurun. Apa yang akan terjadi disaat seperti itu? Hmmmm…… ekonomi Negara akan kolaps. Mampukah Jepang keluar dari keadaan seperti ini? Ya….. kita tunggu saja tanggal mainnya.
________________________
Sekarang aku mengerti kenapa senseiku dulu bermuka sinis.
Diarsipkan di bawah: serba-serbi
Cerita ini terjadi sekitar setahun setengah yang lalu. Waktu itu musim dingin. Aku berangkat menuju tempat kerja dengan jaket tebal dibalut dengan syal hadiah ulang tahun dari seorang sahabat sebelum datang ke Jepang.
“Ohayou gozaimasu” sapaku kepada tencho (kepala toko). Aku pun segera berganti seragam kerja dan menggantungkan jaket dan syalku. Waktu kerja tenchoku yang seorang wanita mendekatiku sambil bertanya,
“Kamu di Indonesia pasti orang kaya, ya?”
“He..?” aku pun keheranan.
“Tuh, kamu bisa beli syal seperti itu.” Aku pun makin keheranan. Emang syal yang kupake semahal apa? Ngobrol punya Ngobrol akhirnya aku bisa menangkap maksud dari ucapan tenchoku tadi. Ternyata syalku itu bukan syal biasa, di syal yang kupake ada lambang LV nya. Alias Louis Vuitton.
“Emang apa salahnya dengan Louis Vuitton?” Aku masih tetap belum bisa menangkap sebab kekaguman tenchoku itu.
“He… kamu nggak tahu ya, Louis Vuitton itu kan mahal banget.”
“sou ka…” jawakbu singkat.
Orang yang nggak ngerti fashion kayak aku ini mana tahu kalo lambang LV yang tertera di syalku itu ternyata adalah merek terkenal. Di Jepang tas, dompet atau pakaian yang bermerek Louis Vuitton harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Teman satu shiftku yang juga seorang cewek tiba-tiba ikutan nimbrung dan mengagumi syalku.
“Yanis-san te sugoi yo ne… pasti orang kaya deh,”
Hhhhh….. mendokusai na… menghadapi dua orang cewek yang terkagum-kagum dengan sebuat merek. Memang benar di syalku itu ada lambang LV, tapi aku sendiri tidak yakin kalo syalku itu adalah asli bermerek LV. Di Indonesia mana ada barang yang tidak bisa dipalsu. Tas dan dompet bermerek Gucci aja bertebaran di mana-mana dan bisa di dapatkan dengan mudah. Aku pun tidak berani menanyakan hal ini kepada sahabatku yang sudah susah payah membelikan hadiah ulang tahunku, syal ini asli LV atau nggak.
Di Jepang kasus pemalsuan merek itu tidak ada. Pantaslah kalo mereka mengira kalo syal yang kupakai itu adalah asli bermerek LV. Aku pun tidak berani mengatakan kepada mereka kalo syalku ini asli palsunya tidak tahu.
———–
Aku itu orangnya tidak terlalu mengambil hati dengan merek. Baju, tas, dompet, jaket dan tetek bengek yang berhubungan dengan fashion, menurutku asal nyaman di pake, model bagus, enak dipandang, itu sudah cukup. Mau bermerek atau nggak ya terserah. Beda dengan orang Jepang. Sepertinya merek adalah nomor 1. Setelah itu baru desain dan penampilannya.
Beberapa waktu yang lalu seorang teman menunjukkan dompet bermerek Gucci yang baru saja dibelinya melalui internet dengan harga 30ribu yen atau sekitar 2,7 juta rupiah. Hanya untuk sebuah dompet???? 2,7 juta rupiah????? Kalo beli di toko-toko biasa, dompet dengan desain dan kualitas yang bisa dibilang sama, harganya paling mahal mungkin sekitar 6 ribu yen atau sekitar 570 ribu rupiah. Sayang banget kupikir uangnya. Padahal uang yang ada di dalam dompet mungkin gak sebanyak harga dompetnya kali ya???
“Yah… sekali-kali beli yang bermereka lah…” katanya.
Diarsipkan di bawah: serba-serbi
Setelah 2 bulan lamanya sholat Dzuhur di tempat yang pindah-pindah dalam kampus. Alhamdulillah sekarang aku punya tempat tetap buat sholat dzuhur.
Kuliah dari pagi sampai sore mengharuskan aku untuk melewati waktu dzuhur dalam kampus. Namanya juga Jepang, negara non muslim mana ada yang namanya masjid atau mushollah dalam kampus? Ini membuatku agak kesulitan karena aku adalah satu-satunya muslim dalam kampus. Bagaimana nih sholat dzuhurnya?
“Udah di jamak aja sama ashar, Orang kita juga sedang dalam safar menuntut ilmu di jalan Allah kok,” ada seseorang yang menyarankanku seperti itu. Dan aku mengiyakan. Selama satu bulan lebih sejak pertama kali masuk kuliah pada April lalu, aku selalu menjamak sholat dzuhur di waktu ashar. Tapi, lama kelamaan ada yang terasa mengganjal dalam hatiku. Untuk apa aku menjamak, padahal kalo dipikir waktu untuk bisa melaksanakan sholat dzuhur sangat cukup (dari jam 12 sampai jam 1 siang istirahat). Kalo masalah tempat sholat bukannya aku bisa sholat di mana saja? Begitu suara yang mengganjal dalam hatiku.
Akhirnya mulailah aku searching tempat-tempat yang jarang dilewati orang dalam kampus. Alhamdulillah ada beberapa tempat yang cocok untuk sholat. Tapi tempat yang paling kusuka adalah di atap salah satu gedung berlantai 7 dalam kampus. Pas, kalo di situ gak ada yang bakal lewat. Apalagi ada dinding setinggi badanku, jadi kalopun ada yang lewat gak akan ketahuan.
Yah…. untuk beberapa saat aku manjadikan markas persembunyian tersebut buat tempat sholat. Sampai akhirnya 2 minggu yang lalu aku memberanikan diri untuk meminta ijin salah satu dosenku untuk sholat di kantor penelitiannya. Dosenku ini berasal dari fakultas hum an sosial. Penelitiannya adalah tentang salah satu suku yang ada di Filipina sambil membandingkannya dengan salah satu suku di Sulawesi Indonesia.
Bahasa Indonesianya lancar man. Bahasa Tagalog dan Inggris apalagi, karena penelitiannya kan terkonsentrasi di Filipina. Beliau sudah berulang kali bolak-balik Jepang-Filipina-Indonesia dalam rangka penelitiannya. Maka dari itu beliau tidak asing lagi dengan yang namanya sholat. Ketika aku minta ijin untuk memakai kantor penelitiannya untuk sholat dia langsung saja mengiyakan. “ii yo, ii yo, douzo tsukatte kudasai,” katanya. Beliau juga langsung menawarkan tikar pandan yang beliau beli di Filipina dulu buat alas sholat.
Alhamdulillah sekarang aku sudah dapet tempat sholat dzuhur yang tetap.
Diarsipkan di bawah: serba-serbi
(Kutulis dengan huruf alphabet biar pada bisa baca. Lagi suka lagu ini nih.)
心の穴を埋めたいから 優しいフリして笑った
Kokoro no ana wo umetai kara yasashii furi shite waratta
出会いと別れがせわしく 僕の肩を駆けていくよ
Deai to wakare ga sewashiku. Boku no kata wo kakete iku yo.
ダメな自分が悔しいほど わかってしまうから損だ
Dame na jibun ga kuyashii hodo. Wakatte shimau kara son da.
強くはなりきれないから ただ目をつぶって耐えてた
Tsuyoku ha nari kirenai kara. Data me wo tsubutte taeteta.
ほら 見えてくるよ
Hora Miete kuru yo…..
帰りたくなったよ 君が待つ街へ
Kaeritaku natta yo. Kimi ga matsu machi e
大きく手を振ってくれたら 何度でも振り返すから
Ookiku te wo futte kuretara. Nando demo furi kaesu kara.
帰りたくなったよ 君が待つ家に
Kaeritaku natta yo. Kimi ga matsu ie ni.
聞いて欲しい話があるよ 笑ってくれたら嬉しいな
Kiite hoshii hanashi ga aru yo. Waratte kuretara ureshii na.
たいせつなことは数えるほど あるわけじゃないんだ きっと
Taisetsu na kota ha kazoeru hodo. Aru wake janainda kitto.
くじけてしまう日もあるけど 泣き出すことなんて もうない
Kujikete shimau hi mo aru kedo. Naki dasu koto nante mo nai.
ほら 見えてくるよ
Hora. Miete kuru yo
伝えたくなったよ 僕が見る明日を
Tsutaetaku natta yo. Boku ga miru asu wo.
大丈夫だよってそう言うから 何度でも繰り返すから
Daijoubu day o tte sou yuu kara. Nando demo kuri kaesu kara.
伝えたくなったよ 変わらない夢を
Tsutaetaku natta yo. Kawaranai yume wo.
聞いて欲しい話があるよ うなずいてくれたら嬉しいな
Kiite hoshii hanashi ga aru yo. Unazuite kuretara ureshii na.
帰りたくなったよ 君が待つ街へ
Kaeritaku natta yo. Kimi ga matsu machi e
かけがえのないその手に今 もう一度伝えたいから
Kakegae no nai sono te ni ima. Mou ichido tsutaetai kara.
帰りたくなったよ 君が待つ家に
Kaeritaku natta yo. Kimi ga matsu ie ni.
聞いて欲しい話があるよ 笑ってくれたら嬉しいな
Kite hoshii hanashi ga aru yo waratte kuretara ureshiina.
Lihat videonya di http://www.youtube.com/watch?v=-b0Q0-e-zpU
Diarsipkan di bawah: Kajian
Tulisan ini aku tujukan buat siapapun yang nanya tentang belajar di Jepang.
Mahasiswa asing yang belajar di Jepang aku pisahkan dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah 国費留学生(kokuhi ryugakusei) artinya mahasiswa dengan biaya pemerintah alias beasiswa. Kelompok yang kedua 私費留学生(shihi ryugakusei) yaitu mahasiswa dengan biaya sendiri.
Aku mulai dari kelompok Pertama.
Beasiswa yang disediakan untuk belajar ke Jepang ini ada banyak macamnya. Secara garis besar bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu yang bisa diakses dari Indonesia dan yang hanya bisa diakses dari Jepang. Beasiswa yang bisa diakses dari Indonesia jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Setahuku ada Monbusho yaitu beasiswa dari Depdikbud-nya Jepang, ada juga beasiswa Panasonic dan lain sebagainya. Untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut kita harus bersaing melawan ratusan atau mungkin ribuan orang pelamar lainnya dari seluruh Indonesia. Aku sendiri gak tahu jelas tentang sistem pendaftaran dan ujiannya gimana. Kalo mau tahu jelas tentang sistem ujian dan sebagainya silakan kunjungi sendiri official website-nya.
Beasiswa yang kedua yaitu yang hanya bisa diakses dari dalam Jepang saja. Artinya kita sudah ada di Jepang dan sedang belajar di salah satu Universitas di Jepang. Dengan kata lain kita harus menjadi 私費留学生(shihi ryugakusei) terlebih dahulu. Beasiswa yang ini lebih banyak macamnya dan biaya yang dikucurkan tiap bulanpun berbeda-beda. Ada yang menawarkan 40.000 yen perbulan sampai 100.000 yen perbulan dalam masa setahun. ada juga yang langsung mengucurkan 300.000 yen sampai 600.000 yen setahun sekali kocor, dan sebagainya. Lembaga yang menawarkan beasiswa pun bermacam-macam. Misalnya, lembaga yang menghususkan untuk pelajar asing dari Asia, atau Amerika, ada juga yang mengkhususkan untuk satu fakultas tertentu. Ada juga yang mengkhususkan buat cewek saja, dan sebagainya. Tentu saja, beasiswa seperti monbusho dan Panasonic yang aku sebut di atas tadi juga bisa diakses dari dalam Jepang.
Dibandingkan dengan beasiswa yang diakses dari Indonesia, kesempatan mendapatkan beasiswa langsung akses dari Jepang lebih mudah. Karena tiap lembaga beasiswa sudah menentukan Universitas yang jadi objeknya. Sehingga ruang lingkupnya lebih kecil dan pendaftarnya pun hanya berjumlah puluhan saja, sehingga kesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut lebih besar.
Sekarang kelompok yang kedua. Aku juga termasuk di dalamnya.
Segian besar 私費留学生(shihi ryugakusei) memulai karir belajar mereka di Jepang melalui sekolah bahasa Jepang (日本語学校– nihongo gakkou). Di Jepang terdapat banyak sekali sekolah bahasa Jepang yang bertebaran di seluruh areal Jepang. Murid-muridnya tentu saja bukan orang Jepang tetapi mahasiswa asing yang mau belajar bahasa Jepang. Untuk merekrut siswa, sekolah bahasa Jepang membuka cabang pendaftaran di beberapa negara lain, seperti Cina, Korea, Filiphina, Indonesia dan masih banyak lagi.
Sepengetahuanku sampai sekarang, sekolah bahasa Jepang yang membuka cabang pendaftaran di Indonesia baru ada sekitar 6 sekolah (kemungkinan lebih sih). Di Nagoya 1 (sekolah bahasa Jepangku), Shizuoka kalo gak salah ada 2 sekolah, Lainnya ada di Gifu, Nagano dan Tokyo juga ada.
Di sekolah bahasa kita cuma belajar bahasa Jepang saja. Sebagian besar 私費留学生–shihi ryugakusei menghabiskan waktu 2 tahun untuk sekedar belajar bahasa Jepang demi persiapan masuk Universitas. Demikian juga aku. Pada tahun kedua belajar bahasa Jepang kita harus mengikuti 日本留学試験 — nihon ryugaku shiken, alias SPMB-nya Jepang khusus buat mahasiswa asing. Materi yang diujikan didalamnya ada dua materi pilihan IPA dan IPS dan dua materi wajib yaitu bahasa Jepang dan matematika. Bahasa Jepang dibagi dalam 4 fase yaitu 作文–sakubun (composition) 聴解–choukai (listening) 読解–dokkai (reading) dan 聴読解–choudokkai (gabungan antara listening dan reading). Materi IPA harus memilih dua diantara 3, biologi, fisika dan kimia. Materi IPS di sini disebut dengan Japan and the world, sebagain besar sama dengan pelajaran SMA Indonesia. Matematika ada dua macam pilihan, bagi yang memilih IPS cukup dengan Matematika 1. Bagi yang memilih IPA maka harus memilih Matematika 2. Tentu saja Matematika 2 lebih susah daripada Matematika 1. Materi ujian selain bahasa Jepang, di sekolah bahasaku dulu tidak diajarkan sama sekali. Jadi aku otodidak membeli buku dan belajar sendiri di waktu senggang.
Dari ryugaku shiken di atas, kita akan mendapatkan poin. Poin maksimum untuk bahasa Jepang adalah 400, Matematika 200, IPA atau IPS 200. Poin tersebut menjadi modal kita untuk mendaftar ke Universitas yang kita tuju. Berapa poin yang kita dapat, lalu sesuaikah poin tersebut dengan syarat yang diajukan oleh Universitas dan fakultas yang kita tuju. Kalo sesuai kita daftar, lalu ikut ujian masuk. Setiap universitas punya metode ujian masuk sendiri-sendiri, biasanya sih cuma wawancara dan tulis esai. Untuk menghindari kemungkinan terburuk (tidak lulus ujian masuk) biasanya shihi ryugakusei mendaftar minimal dua universitas. Satu yang paling dituju dan satu lagi yang passing grade-nya agak rendah.
Setelah masuk Universitas, kita bisa mendaftar untuk menerima beasiswa. Tapi sebagian besar setelah masuk semester 3 (tahun ke 2), karena nilai dan absensi sering menjadi syarat. Ini adalah kehidupan shihi ryugakusei dari segi akademis. Yang paling membedakan antara kokuhi ryugakusei dan shihi ryugakusei ada tiga yaitu FULUS, MONEY dan UANG (he…he…he…). Yup, namanya juga biaya sendiri ya uang sekolah, uang hidup, uang ujian, dan tetek bengek lainnya yang berhubungan dengan uang harus keluar dari kantong sendiri atau orang tua.
Kalo orang tuamu bukan orang KONGLOMERAT, jangan coba-coba mengandalkan keuangan dari orang tua. Bayangin saja biaya hidup sebulan disini kalo dirupiahkan berkisar antara 10 juta rupiah. Itu yang pas-pasan lho ya. Terus, apa orang tuaku seorang konglomerat???? Nggak kok. Uang 10 juta perbulan dari mana tuh? Jawabannya adalah dari Arbaito alias kerja part time.
Di jepang mahasiswa asing mendapatkan ijin untuk kerja paruh waktu selama 28 jam seminggu. Dengan kata lain 4 jam sehari. Tapi dalam kenyataannya sebagian besar shihi ryugakusei melebihi batas waktu yang ditentukan. Aku secara pribadi alhamdulillah dari pertama tdatang ke Jepang sampai sekarang belum pernah menerima kiriman uang sepesepun dari rumah. Semuanya berkat part time, yah … meskipun harus mengorbankan waktu tidur jadi cuma 4 sampai 6 jam sehari.
Bagi seorang 私費留学生–shihi ryugakusei belajar dan part time, adalah dua hal yang harus bisa dilakukan dengan seimbang. Di sinilah kadang-kadang terasa beratnya. Demi kelangsungan belajar di negeri Sakura ini shihi ryugakusei sering harus mengorbankan waktu belajarnya untuk bekerja. Ketika dikejar deadline tugas esok harinya sedangkan hari ini harus masuk arbaito, waktu tidurpun menjadi korban. Ketika mahasiswa lain sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler sehabis kuliah, kita harus cepat-cepat pulang karena ada arbaito. Waktu adalah modal yang paling berharga bagi seorang shihi ryugakusei. 1 detik pun bener-bener berharga.
Maka dari itu, kalo kita bisa mendapatkan beasiswa dengan jumlah sedikitpun perbulannya akan terasa sekali bedanya. Tahun ini tahun pertamaku masuk kuliah. Jalan masih kelihatan terjal dan penuh duri, tapi masih ada sinar terang yang menyinari dan melindungi. Jadi inget peribahasa Indonesia, Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bukankah Allah sudah berfirman Inna ma’al ‘usri yusro. Fainna ma’al usri yusro.
Pusiiiing banget deh.
Minggu lalu dosenku menyuruhku membuat laporan tentang hubungan antara Keinezian sama Tokugawa Muneharu. Soalnya dia menilai kalo Tokugawa Muneharu yang hidup jauuuuh sebelum si Keinez muncul ke muka bumi ini menjalankan Economic Policy-nya sama seperti yang dirumuskan oleh Keinez. Singkatnya Tokugawa Muneharu adalah keinezian sebelum Keinezian. Dosenku tuh bilang, “Kalian ngambil dari bahan kuliah yang saya berikan saja cukup kok,”
Hah…..!!!!!! cukup?????? Waktu kuliah dia ngomong apa aja aku nggak ngerti. Jangankan aku, orang Jepang yang sejak melek ketemu dengan bahasa Jepang aja bilang kuliahnya gak bisa dimengerti. Apalagi aku tuh yang baru belajar baca hiragana 2 tahun yang lalu??? Waduh…. bahaya nih….. yabai kore….
Akhirnya semingguan aku cari di internet tentang Keinezian dan juga si Tokugawa Muneharu. Alhamdulillah di wikipedia artikel tentang Tokugawa Muneharu dan Keinezian ada dalam artikel yang terpisah. Sayangnya kedua tulisan itu gak ada dalam wikipedia bahasa Indonesia. Keinezian ada dalam Inggris dan Jepang, lengkap. Kalo Tokugawa Muneharu yang lengkap cuman ada di bahasa Jepang. Akhirnya kuprint dokumen yang butuhkan, dan kumulai dari Tokugawa Muneharu.
Pas baca artikelnya tuh…. Wah….. apaan nih??? Kanji-kanjinya kok bulet-bulet kayak benang semrawut, dan lagi gak pernah ketemu lagi sama tuh kanji. Akhirnya 3 jam kucoba mengerti arti artikel tersebut dan baru kubiskan 1 halaman setengah dari 3 halaman yang ada. Fuhhhh…… capeknya……
Singkat cerita semua artikel sudah kubaca dan menghabiskan waktu berhari-hari. Habis itu bukannya masalah sudah selesai, tapi malah tambah bingung. “Emang apa yang sama antara Muneharu dan Keinezian?????” pikirku. Wah…. pusiiiiing. Kucari-cari artikel tambahan tapi tetep aja I have no clue. Apa yang ditulis nih????
Tokugawa Muneharu dan Keinezian…. hmmmm….. akhir cerita dari dua orang itu emang sama sih. Yaitu, GAGAL. Ya, kedua-duanya mengalami kegagalan dalam membangun ekonomi di tempat masing-masing. Tokugawa Muneharu yang merupakan shogun ke 8 dan ditunjuk sebagai daimyou di Nagoya (kalo dalam sejarah Indonesia mungkin kayak Panglima Gajah Mada gitu kali….) memang sempat membawa Nagoya
dalam kemajuan ekonomi yang sangat mencolok, sampai membuat iri daerah kekuasaan Tokugawa yang lain. Tapi sayang kemajuan ekonomi yang dicapai adalah semu. Sampai akhir masa pemerintahannya pemerintah mengalami kerugian, sehingga dia diturunkan dari jabatan dan dikucilkan.
Kalo si Keinezian….. hmmmm…….. terus terang aku juga masih kurang ngerti tentang paham dia. Singkatnya paham dia itu bertentangan dengan paham lama yaitu The law of Sei yang mengatakan “Supply creates its own demand”. Dengan kata lain si Keinezian itu mengatakan “Demand creates its own Supply”. Apanya yang sama ya?????
Hahhh… tahulah tapi alhamdulillah selesai juga laporanku. Hi..Hi…Hi….
Diarsipkan di bawah: Kajian
Hayo coba sebutkan 3 warna di rambu lalu lintas?!!! Bagi mereka yang gak buta warna pasti dengan mudah bisa menjawab Merah, kuning dan hijau. Tul gak? Tapi ternyata kalo kita tanyakan soal yang sama kepada orang Jepang jawabannya mungkin lain deh. Bukan berarti warna lampu lalu lintas di Jepang ini beda sama di Indonesia lo, Soalnya negara manapun di belahan bumi ini pasti lampu lalu lintasnya mempunyai warna merah, kuning dan ijo deh.
Tahu nggak di Jepang, orang menyebut warna ijo di lampu lalu lintas dengan warna biru lho. Merah dalam bahasa Jepang disebut 赤い(akai), Kuning dalam bahasa Jepang disebut 黄色い(kiiroi), Ijo itu bahasa jepangnya 緑色(midori iro) biru itu bahasa Jepangnya 青い(aoi). Pas mau nyebrang dan lampu lalu lintas di seberang sudah menunjukkan warna ijo, orang Jepang akan bilang もう青になったよ(mou ao ni natta yo= sudah jadi biru tuh). Mananya yang biru???? wong yang nyala di seberang sana itu warnanya ijo kok. Goblok gak tuh orang Jepang??? Mungkin kalo kita menyebut 緑(midori) di depan orang Jepang, kita yang akan disangka aneh.
Sebelum aku menyadari hal ini, aku selalu menyebut warna ijo di lampu lalu lintas dengan 緑(midori). Sadar punya sadar kok nggak ada orang di sekelilingku yang bilang 緑(midori)? Aku pernah tanya masalah ini ke sensei bahasa Jepangku. Dia cuma jawab, kenapa ya?? sudah dari dulu mungkin kali. Jawaban yang kuuuurang memuaskan.
Sampai sekarang aku juga belum tahu tuh sebabnya. Dalam batas pengetahuanku tentang bahasa Jepang warna biru mempunyai arti seperti warna ijo dalam bahasa kita. Contohnya, Untuk menggambarkan orang yang belum berpengalaman atau masih muda kita mengatakan “Kamu itu masih ijo”. Dalam bahasa Jepang warna ijo tidak dipake tapi warna biru yang dipake. Remaja atau anak muda dalam bahasa Jepang disebut 青年(seinen). 青(sei) dilihat dari kanjinya, artinya adalah biru sedangkan 年(nen) artinya usia, atau tahun. Secara letterlek anak muda atau remaja dalam bahasa Jepangnya disebut dengan usia biru.
以上
Diarsipkan di bawah: Kajian
Sejak SD sampai SMA di Indonesia guru di sekolah selalu mengajarkan kalo agama mayoritas di jepang adalah agama Shinto. Setelah datang ke Jepang dan menyaksikan sendiri kehidupan orang Jepang, aku ragu kalo mengatakan bahwa mayoritas agama mereka adalah Shinto.
Agama Shinto yang merupakan salah satu bentuk agama politeisme, memang pernah dianut oleh masyarakat Jepang dan diakui sebagai agama resmi Jepang dari masa restorasi Meiji, tapi kemudian menghilang bersamaan dengan berakhirnya perang dunia II. Sebagian besar ajaran agama Shinto yang dianggap penting dan dilaksanakan pada masa perang mulai ditinggalkan dan hanya tinggal kenangan.
Terus orang Jepang sekarang agamanya apa? Sebagian kecil dari mereka masih ada yang menganut agama Budha, namun sebagian besar orang Jepang pada masa dewasa ini tidak menganut suatu agama tertentu. Orang Jepang memang unik, mereka mempercayai adanya Tuhan tapi tidak menganut suatu ajaran agama tertentu. Senseiku di sekolah bahasa Jepang dulu pernah bilang, Tuhan orang Jepang itu bisa berbentuk apa saja. Kalo dia menganggap dalam pohon ada tuhan maka dia akan menyembahnya, kalo dia menganggap Tuhan itu dalam botol maka dia juga akan menyembahnya.
Aku pernah berdiskusi dengan temanku waktu jam makan siang masalah agama orang Jepang. Dia bilang, orang Jepang tidak menganut agama tertentu bukan karena mereka tidak percaya adanya Tuhan. Dalam diri orang Jepang ada kepercayaan tentang Tuhan. Setelah bicara agak lama, aku menangkap kata “tuhan” dalam kamus dia adalah dewa-dewa atau ruh alam, bukan seperti Tuhan dalam kamusku yang aku kenal sebagai pencipta alam semesta dan seisinya. Seorang temanku orang Jepang yang lain pernah bilang, yang dianggap sebagai tuhan oleh orang Jepang itu sebenarnya adalah ruh para leluhur mereka. Orang Jepang itu nggak percaya sama adanya tuhan, kalo emang percaya kenapa nggak nganut agama? begitu katanya.
Orang Jepang memang unik. Mereka tidak menganut agama Kristen tapi ikut merayakan Natal. Banyak juga orang Jepang yang bukan Kristen tapi menikah di gereja. Dari sudut pandangku mereka sepertinya hanya menyukai hingar bingar perayaan. Mereka ke kuil hanya kalo lagi butuh aja atau sekedar membeli jimat. Orang Jepang memang perpaduan yang unik.